first-formal-job

Hampir empat hari ini, saya jadi staff IT di pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma). Kelihatannya malah jadi anak magang. Plus, ternyata jadwalnya senin-jum’at. Rasa-rasanya ingin teriak, “terjebak”, but life must go on, ‘kan. Selain karena jadwal perkuliahan belum dimulai -akan dimulai Maret, bulan depan-, jadi kegiatan anak magang ini adalah membantu staff administrasi pascasarjana melakukan apapun -_-.

sedikit mengeluh?, nggak!. Lebih tepatnya saking gabutnya, mending nggak masuk gitu, wkwkw. Hari pertama kenalan, main-main, disuruh yutuban, disuruh puang dari jam 2, karena memang nggak ada kegiatan. Hari kedua dapat laptop karena belum punya PC, rewrite silabus dengan menambahkan nama sendiri sebagai asisten dosen, yang mana sampai sekarang belum selesai, soalnya laptopnya hang dong. hari ketiga stand by dari jam 7 pagi sampe jam 4 sore, ngurusin administrasi sidang terbuka promosi doktor. and yup, me that busyyyy, and was happy. hari sabtu ini, harus pindah ke ruangan staff IT. Sudah kenal sama personel-personelnya, but, yah. hmmmm. I am introvert. Susah dekat sama orang lain kwkw.

oia, sampai saat ini belum punya kos. Jadi masih numpang di kos teman. Enak? Nggak. pingin buru-buru pindah.

any wish? hopefully pass other test for havin better job! Aaaaminnnn.

Menunggu

Menunggu, noun, kata kerja. Menyebalkan

Apalagi menunggu sidang, jadwal liburan terpaksa dihapuskan, satu minggu tanpa kabar, adanya kabar siapa penguji dan ketua sidang. Pengujiku K I L L E R. Dosen matkul metodologi penelitian, pernah kuajak diskusi tugas akhir dengan respon, “Kalau saya jadi pembimbing kamu, saya suruh ganti”. Mati.

Satu minggu berteman ragu.

Udah Mau Finish, Masa Mau Balik Kanan?

Iman itu emang ups and downs ya. Kalau katanya orang Timur Tengah sih, “la yusamma qolba qolbun illa litakatstsuri taqallubin”, nggak bakal dinamakan hati itu hati selain karena dia suka bergejolak. Ehem.

Sekarang saya lagi di perpus lantai 3. Rencananya, mau nyerahin draft hasil ke Sekretarisnya Dosbing. Tapi habis ngobrol sama prof yang lain barusan, jadi down. Apalagi disaat H-3 hari daftar sidang, malah bilang “drop aja” wkwkwkw. Kuingin tidur terus bangun-bangun sudah Jam 9 Tanggal 2 Februari. Finish itu udah besok masa aku balik kanan ngulang dr depan? wkwk Ku tak mauuuu

Menyerah nggak akan menyelesaikan masalah. That’s why aku nulis. Kalau ada yang bilang curhat di medsos nggak nyelesain masalah, emang bener sih. seenggaknya kalau aku nulis panjang lebar sekarang, habis ini aku kedatangan ide-ide baru. Amin, semoga.

H-3 dan aku belum selesai nulis laporan. Apa aku takut? Banget. Tapi aku tetap tenang (kelihatannya) soalnya aku tau Allah nggak bakal biarin aku bayar spp lagi, ehe. Dan kayanya aku juga udah nggek peduli sama nilai (emang dr dulu nggak peduli wkwk).

 

Dah dulu lah ngebacotnya, lanjut bab 4

tiba-tiba pulang (ke rumah)

Setelah seminar proposal kemarin, hampir satu minggu saya nggak ada progres. Demotivasi, lalu tiba-tiba merengek ingin pulang. Aku rindu rumah. Gak seperti biasanya, yang kalau demotivasi main ke kota sebelah buat refresh otak, kali ini memang benar-benar ingin pulang. Inging benar-benar menghilangkan pikiran berat dan negatif dalam otak.

Kemudian, “Loh, Nana tumben pulang”. Komentar keluarga dan tetangga. Terkecuali Mak-Bapak, dong hehe. Lantas kubalas sekenanya, iyanih baru selesai ujian. Sedikit berbohong, karena bukan itu alasanku pulang. Di rumah pun jua ga tak kuceritakan beratnya hidup wkwkw, di rumah malah kehidupan lebih rumit. Tapi di rumah, ada tulus yang mengalir. Ada cinta disetiap keriwehan. Jadi, seberat apapun keadaan di rumah, ada orang-orang yang menjadi tempat untuk berlindung, untuk meminta peluk, dan siap kapanpun untukku.

Pulang kemarin benar-benar melegakanku. Pertanyaan-pertanyaan orang tua yang tak sempat kujawab tentang kehidupanku di masa datang. Meskipun sedikit bersebrangan dengan piiranku, selama itu bisa menenangkan mereka dan aku juga sanggup, aku jalani. seperti yang kulakukan sekarang ini. Applying, hahaha. Satu jawabanku juga membuat Mak tenang, dan aku terbebas dari pertanyaan yang selama ini kuhindari.

Pulang kemarin, benar menenangkan.

Dan dia juga menenangkan

After Seminar Proposal –“

Jumat, 21 September 2018.

I did proposal seminar. Alhamdulillah. One step closer to say good bye for formal edu wkwkw. Bye bangku sekolah!

Ada beberapa hal yang sering berlarian di pikiran saya selama menempuh pendidikan pascasarjana. First, Why I am so stupid wkwkw. Awal mula perkuliahan dirasa sangat berat dan nggak berujung. Saya nggak tahu harus memulai belajar dari mana. Dari filsafat administrasi kah? dari sejarah admnistrasi kah? Apalagi mata kuliah Studi Pengambilan Kebijakan, teori Cost-Benefit Analysis yang bikin mual. Karena nggak faham-faham.

Second, budaya akademis yang jauh berbeda. Mungkin karena sudah beda strata, beda level. Dulu habis kuliah tinggal sok sibuk, kegiatan. Di luar jadwal kuliah sama kegiatan lain diisi main, nongkrong, dan beberapa hal lain yang menyenangkan. Sekarang? Makan pun yang dibahas pelajaran yang sudah selesai dan yang akan datang. I need resting my brain wkwkw. Jadi obrolan yang seharusnya ringan dan menyenangkan harus berubah menjadi serius dan berakhir dengan saling pandang. Kenapa harus membicarakan hal berat di kala makan?

Third. Dikelilingi orang ambisius. Kalau dibilang tidak punya ambisi, ya saya punya. Tapi nggak se-ngoyo itu lah. Cari-cari muka sama dosen, nampilin diri pas sesi diskusi (padahal teman yang lain ingin segera pergi). Wwkwk. Serasa makhluk paling nggak bermutu seantero kelas.

Fourth. How can they passed their way. Pembimbing saya meraih gelar Profesor ketika usianya menginjak 33 tahun. Bayangkan 33!! Berarti 9 tahun lagi dari umur saya sekarang. Gak bisa bayangin perjuangan yang udah beliau lewati. Terus gimana bisa beliau dapat anak bimbingan yang seperti saya? wkwkw. Allah maha baik.

CPNS buka, tapi…

As public administration graduate, tentu keinginan buat jadi abdi negara ada, tinggi. Apalagi ngeliat birokrasi di daerah sendiri yang carut marut. Ingin rasanya jadi bagian perubahan. Setelah memperhatikan betul formasi yang dibutuhkan, ternyata, lulusan administrasi publik nggak dibutuhkan kali ini. Di daerah saya. Hmm, ingin bilang. “administrasi gak cuma di meja kerjanya, ricek deh kebutuhanmu. atau bahkan nggak tau keberadaan administrasi publik wkwkw”. Tapi inget kalo perumus formasi pasti lebih jago dari anak kecil sok pinter hehe.

Melihat animo calon peserta CPNS tahun lalu – saya juga nyoba-, apa yang dapat saya simpulkan?. Waw. Saya sempat berbincang dengan beberapa peserta lain mengapa mereka ikut seleksi CPNS yang rasio kelulusannya hampir 1:1000 (Ya anggaplah seperti itu). Alasan mereka macam-macam. “Aku udah kerja, dek. Udah 3 tahun di perusahaan. Tapi Mama pengen aku jadi PNS”, “Hidup PNS kan terjamin, Nad. Pensiun dapat gaji”. “Anak publik ya kesini arahnya”, “Pengen ngabdi sama negara”, dan banyak lainnya.

Tapi, boleh gak, kalo aku bilang semua itu gara-gara semakin sedikitnya lapangan pekerjaan? atau rasio antar lulusan sama ketersediaan pekerjaan nggak match. Atau boleh aku tarik ke “kita belum sampe ke arah pendidikan, kita masih di taraf pengajaran”?. Banyak faktor sih. Bahkan kamu, mahasiswa akhir bisa ngangkat ini jadi tema penelitian. “Factors Affected Interest on CPNS Selection”, ya gitulah kira-kira bahasa inggrisnya wkwkw.

Apa saya kecewa dengan ketiadaan formasi di daerah saya?. Jawabannya jelas. IYA. Sebagai seorang perantau yang cuman pulang setahun dua kali, bekerja di daerah sendiri adalah cita-cita mulia. Selain bisa ngabdi sama daerah, tentunya juga bisa pulang ke rumah. Guys, u know that i left my home when i was 11. Too young for leaving home. Hiks. Malah curhat. Stop.

What i try to say is, whatever your job/profession is, love it!. Be grateful for everything God gave u. Semua ada masanya. (Sok bijak aja sih, wkwk)

But, the important one for now is, Jumat besok saya mau seminar proposal dulu. Doakan yawww. Sekarang lagi belajar, tapi belajar yang lain. Wkwkw why I am so easy to be distracted.

garis tangan

kemarin tak sengaja aku bertemu teman dari temanku. ia memintaku menjulurkan tangan kiri, mencoba membaca garis-garis beraturan yang tak bermakna bagiku. kuberikan tangan kiri, mencoba memberikan perhatian pada apa yang ia ucapkan.

sayangnya, perkataannya hampir semua benar. sikapku, sifatku, perasaan, dan kebingunganku.

1

17 Juli 2015 kemarin, tepat 10 tahun saya merantau.

17 Juli 2005, Nana harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan stud, Nana yang baru saja tamat SD, Nana yang masih 11 tahun, Nana yang suka berlarian di jalan raya mengenakan oblong putih -bila tidak mau disebut kaus dalam- dan celana pendek, Nana yang rambutnya masih dikuncir dua, yang gigi susunya masih tergantikan beberapa oleh gigi dewasa, Nana yang kurus kering dengan berat tidak sampai 20 kilo namun pipinya tembam, dan dadanya yang tak kunjung tumbuh. Tepat hari itu, Minggu 17 Juli 2005 pertama kalinya Nana menginjakkan kaki di pesantren modern ala Gontor di kabupaten terujung timur pulau Madura, Sumenep.

Hari itu aku yang selalu nampak tegar dan kuat menangis jadi di gerbang pemisah asrama dan kelas. Sejadi-jadinya. Tak peduli dengan tatapan iba orang yang lalu lalang di depan maupun belakangku, aku menangis, ibuku pergi, bapakku pergi, dan sulung mereka, mereka buang!

Hapus Saja

Yogyakarta, 9 Juli 2015

aku punya banyak mimpi, beberap orang menyebutnya “multidream” salah satunya adalah mengenal negeriku lebih dalam, menjelajahi negeriku hingga tak ada kata asing yang akan terucap. Aku ingin berada lebih lama di pedalaman tanpa akses telepon apalagi internet, hanya lidah yang menyambungkan ceritaku dan mereka. Aku suka tersesat di keramaian, melihat lalu menertawakan kesibukan orang-orang, entah benar-benar sibuk atau hanya menyibukkan diri. Entah sibuk karena banyak pekerjaan atau membuat taktik baru mengejar keinginan-keinginan tak berkesudahan. Dan sekarang disinilah aku, di dalam salah satu ruangan Biro Tata Pemerintahan lebih tepatnya di depan PC berukuran 21 inch dengan koneksi cepat dibandingkan Wi-Fi Kampus terbaik keempat di Indonesia.

Aku sedang melaksanakan magang, jangan kalian pikir aku mencuri-curi koneksi untuk menulis disaat jam kerja. Aku memaksimalkan waktu istirahat dengan kesempatan terbaik, dengan pc baru, koneksi cepat, dan ruangan ber-ac. Maka nikmat Tuhan manakah yang dapat aku dustakan?.

Bagi mahasiswa setengah tua sepertiku, magang adalah salah satu syarat untuk melaju ke jenjang skripsi. Kakak tingkat banyak bilang bahwa magang mengakibatkan gabut, baper karena stalking, dsb. Aku dan ketiga temanku menepisnya, “tidak mungkin! kami berada di bagian Penyelenggaraan Otonomi Daerah Provinsi DIY yang dikenal daerah istimewa yang secara otomatis tugas kami akan sedikit berbeda dengan pemda lainnya”, kami berkilah. Ah, sudahlah kenyataan tak selamanya sama dengan ekspektasi, keinginan, dan harapan.

Hapus saja program ini, wahai pihak fakultas!, ganti saja dengan KKN, program masuk desa atau apalah yang nantinya lebih berguna. Terimakasih, salam dari kami di Nagari Ngayogyakarta yang tengan terbelit dawuh raja! hahahatugu-yogyakarta-2